Artikel GuruTerbaru

Sekolah Terbaik Buat Buah Hati

Keberhasilan pendidikan seorang anak dipengaruhi oleh keluarga, sekolah dan lingkungan yang kita kenal dengan tripusat pendidikan. Bila sala satu dari ketiga itu cacat, maka akan terdapat ketimpangan dalam karakter anak-anak. Meskipun seorang anak terlahir dari keluarga yang religius, tetapi meraka tinggal dilingkungan yang buruk, itu akan mempengaruhi juga.

Rasulullah SAW. bersabda “ agama sesorang tergantung agama teman bergaul. Hendaklah dia memperhatikan siapa yang dia jadikan teman .” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi)

Wajah Pendidikan Saat Ini

Indeks pendidikan Indonesia berdasarkan rilis Unesco seperti dilansir Deutsch welle, data tahun 2017, berada diperingkat 5 ASEAN dan 108 di dunia dengan skor 0,603. Secra umum kualitas pendidikan di Tanah air berada dibawa Palestina, Samoa dan Mongolia. Hanya 44% penduduk menuntuskan pendidikannya  menengah. Sementara 11% murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah. Fenomena ini membuat kita miris.

Meskipun sejak tahun 2011 kurikulum pendidikan berbasis karakter diberlakukan kesemua jenjang pendidikan, namun hasilnya belum signifikan. Sebab karakter hanya sebatas tulisan diatas kertas. Didalam silabus dan RPP tidak menjiwai, apalagi menjadi kultur dalam lingkup pendidikan itu sendiri. Akhirnya pendidikan karakter hanya sebatas fatamorgana. Dilihat ada ditangkap hilang. Karena pendidikan katakter itu sesungguhnya adalah mendidik karakter dengan karakter. Semua bermula dari karakter pendidik dan tenaga kependidikan dalam berinteraksi dengan semua warga sekolah. Bukan topeng dan karakter yang dimanipulasi.

Institusi Pendidikan Zaman Rasulullah SAW

Rasulullah SAW. memiliki perangkat yang sempurna saat memulai pendidikan. Dimulai dari pendidikan ditempat pertama terselenggaranya pendidikan yaitu dirumah Arqam. Dengan sebuah tujuan membentuk pribadi bertauhid para sahabat agar menjadi hamba dan khalifah yang baik dalam kehidupannya. Misi yang sesuai dengan tujuan Allah SWT. menciptakan manusia. Pola pendidikan Rasulullah terbagi dua, yaitu periode pendidikan Makkah dan periode pendidikan Madinah.

Pada fase Makkah, Rasulullah menitik beratkan pada penanaman dan penguatan tauhid. Tujuannya agar dari jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan mereka sehari-hari. Maka kita lihat lahirlah para sahabat sekualitas Abu bakar As-Siddiq, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin Haritsa, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Umar bin Khattab dan sederet nama sahabat yang lainnya. Mereka bukan saja kuat akidahnya, tapi juga terasah jiwa kepemimpinannya.

Pada fase madinah, Rasulullah menitik beratkan pendidikan pada pembinaan dibidang keagamaan utamanya pada kaitannya dengan ibadah, pendidikan, akhlak, muamalah , kesehatan dan sosial politik. Semuanya sudah terbingkai rapih oleh kekuatan tauhid, sehingga cobaan dan godaan apapun tidak memengaruhi jiwa para sahabat. Hasilnya, dalam kurun waktu 10 tahun, mereka mampu mengislamkan jazirah arab dan islam menjadi agama yang diperhitungkan hingga ke Persia dan Romawi, dua imperium terbesar saat itu.

Pola pendidikan pada masa Rasulullah tersebut masih sangat relevan untuk dipakai saat ini. Mengapa tidak mencoba menapaktilasi metode Rasulullah SAW membina sahabat-sahabatnya ? bukankah dari hasil metode itu lahir manusia-manusia yang luar biasa dalam sejarah ? manusia-manusia terbaik sepanjang sejarah dan Allah SWT abadikan mereka dalam Al-Qur’an.

Memilih Sekolah yang Mengajarkan Adab

Pendidikan merupakan pilar yang akan menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Oleh kerenanya faktor guru, kurikulum, kultur, visi dan misi serta sarana prasarana pendukung pendidikan sangat penting diperhatikan. Lalu bagaimana kita sebagai orangtua memilih sekolah yang beradab bua putra putri kita ?

Pertama, pilih lembaga pendidikan yang mengajarkan tsaqafah islam yang dibutuhkan sesuai jenjang usia anak didik. Lebih baik lagi jika sekolah itu menerapka kurikilum yang berbasis tauhid, yang mengintegrasikan nilai-nlai tauhid dalam setiap proses pendidikan yang berlangsung didalamnya. Hal ini menjadikan anak meyakini sebener-benarnya bahwa Allah Maha melihat dan mengawasi setiap gerak gerik mereka. Mereka melakukan ketaatan bukan karena takut hukuman , tapi karena yakin Allah SWT membersamai.

Kedua, pilih lembaga pendidikan yang merekrut guru-guru yang professional, amanah dan kafa’ah. Guru sangat mendukung dalam proses belajar mengajar untuk membentuk syakhsiah (kepribadian) anak didik karena guru akan menjadi teladan terdekat setelah orang tuanya. Ada ungkapan yang mengatakan , “At-Thariqah ahammu minal maaddah.” cara mengajar (metode) itu lebih penting dari pada kurikulum. “ wal Mudarrisu ahammu min thariqah.” Dan guru lebih penting dari metode. Tetapi “Ruhul Mudarris ahammu min kulli syaiin.” Ruh seorang pengajar itu lebih penting dari semuanya.

Ketiga, pilih lembaga pendidikan yang mejalankan proses belajar mengajar secara islamiah, para guru nya berusaha menyampaikan pelajaran secra Talaqqi- fikriyah , yakni dengan bahasa yang berpengaruh sehingga anak didik benar-benar memahami yang disampaikan. Tidak hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan. Qoulan tsaqila yang berpengaruh dan mencerahkan peserta didik didapatkan seorang guru dari sujud-sujudnya dimalam hari dalam Qiyamullail.

Keempat, pilihlah lembaga pendidikan dengan lingkungan dan budaya kondusif bagi tujuan pendidikan yang optimal. Tidak hanya menanamkan pikiran yang islami, tetapi juga menerapkan kebiasaan islami yang mewajibkan seluruh personil (guru, karyawan, dan siswa) menutup aurat, tidak ikhtilat (bercampur) dengan lawan jenis dalam kondisi apapun. Melaksanakan perintah shalat lima waktu tepat waktu. Sehingga nampak pengamalan nilai-nilai islam bukan hanya sekedar teori, melainkan mejadi kultur  dalam lembaga pendidikan tersebut.

Kelima, pilih lembaga pendidikan yang membuka ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat. Agar keluarga dan masyarakat dapat berperan secara optimal dalam mendukung proses pendidikan sekolah, bersatu dengan visi misi pendidikan sehingga tripusat pendidikan terintegrasi pada kepribadian anak.

Sekolah tak melulu tentang prestasi, pengakuan hingga hingar binger olimpiade, bukan pula tentang fasilitas mewah dan bayaran yang mahal. Tetapi sekolah adalah membangun manuasia yang bertaqwa, yang semakin berilmu semakin tinggi rasa takutnya kepada Allah.

*Suara Hidayatullah

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close